Kumpulan Status FP Laskar Nabawi... ( Stasiun Para Pemuda Pecinta Rasulullah S.A.W. dengan Nuansa Ahlussunnah Wal Jama'ah )
Kisah Rasulullah : Yahudi yang Masuk Islam
Suatu ketika Rasulullah SAW sedang duduk bersama para sahabat. Tiba-tiba muncul seorang pendeta Yahudi bernama Zaid bin Sa'nah ketengah-tengah, lalu menarik kerah baju Rasul dengan keras seraya berkata kasar, "Bayar utangmu, wahai Muhammad, sesungguhnya turunan Bani Hasyim adalah orang-orang yang selalu mengulur-ulur pembayaran utang."
Diantara sahabat Rasulullah ada Sayyidina Umar bin Khattab ra. Umar bin Khattab RA langsung berdiri dengan muka yang merah padam dan menarik pedangnya. "Wahai Rasulullah, izinkan aku menebas batang lehernya." Rasulullah SAW berkata, "Bukan sikap kasar seperti itu aku menyerumu. Aku dan Yahudi ini membutuhkan perilaku lembut. Perintahkan kepadanya agar menagih utang dengan sopan dan anjurkan kepadaku agar membayar utang dengan baik."
Tiba-tiba Yahudi itu berkata, "Demi Allah yang telah mengutusmu dengan hak, aku datang kepadamu bukan untuk menagih utang. Aku datang sengaja untuk menguji akhlakmu. Tapi, aku telah membaca sifat-sifatmu dalam Kitab Taurat. Semua sifat itu telah terbukti dalam dirimu, kecuali satu yang belum aku coba, yaitu sikap lembut saat marah. Dan aku baru membuktikannya sekarang. Oleh sebab itu, aku bersaksi tiada Tuhan yang wajib disembah selain Allah dan sesungguhnya engkau wahai Muhammad adalah utusan Allah. Adapun piutang yang ada padamu, aku sedekahkan untuk orang Muslim yang miskin."
Syahid dan Syuhada
Bismillahir Rohmaanir Rohiim
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menyampaikan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Siapa yang terhitung syahid menurut anggapan kalian?” Mereka menjawab, “Wahai Rasulullah, siapa yang terbunuh di jalan Allah maka ia syahid.”
Beliau menanggapi, “Kalau begitu, syuhada dari kalangan umatku hanya sedikit.”
“Bila demikian, siapakah mereka yang dikatakan mati syahid, wahai Rasulullah?” tanya para sahabat.
Beliau menjawab, “Siapa yang terbunuh di jalan Allah maka ia syahid,
siapa yang meninggal di jalan Allah maka ia syahid,
siapa yang meninggal karena penyakit tha’un maka ia syahid,
siapa yang meninggal karena penyakit perut maka ia syahid,
dan siapa yang tenggelam ia syahid.” (HR. Muslim)
~~~~~~~~~~~~~
“Syuhada itu ada lima, yaitu :
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menyampaikan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Siapa yang terhitung syahid menurut anggapan kalian?” Mereka menjawab, “Wahai Rasulullah, siapa yang terbunuh di jalan Allah maka ia syahid.”
Beliau menanggapi, “Kalau begitu, syuhada dari kalangan umatku hanya sedikit.”
“Bila demikian, siapakah mereka yang dikatakan mati syahid, wahai Rasulullah?” tanya para sahabat.
Beliau menjawab, “Siapa yang terbunuh di jalan Allah maka ia syahid,
siapa yang meninggal di jalan Allah maka ia syahid,
siapa yang meninggal karena penyakit tha’un maka ia syahid,
siapa yang meninggal karena penyakit perut maka ia syahid,
dan siapa yang tenggelam ia syahid.” (HR. Muslim)
~~~~~~~~~~~~~
“Syuhada itu ada lima, yaitu :
Mandat Sayyidina Rasulullah al Musthofa shalallahu alayhi wa alihi wa sallam
Rasulullah SAW bersabda :"Barangsiapa yang (peduli) terhadap kebutuhan saudaranya, maka Allah (peduli) pada hajatnya".
Jika hajat orang lain kita pedulikan maka Allah akan peduli kepada hajat kita apalagi jika hajat itu adalah hajatnya Rasulullah, apa hajat beliau?, Hajat beliau adalah tersebar luasnya dakwah beliau, Rasulullah bersabda :" Sampaikan (sesuatu ) dariku walaupun satu ayat "
hadits ini lalu disyarahkan (disyarah maksudnya di perjelas maknanya) oleh Ibnu Hajar Al Asqalani Asy Syafii didalam kitab beliau yang mahsyur Fathul Bari Bi Syarah Shahih Bukhari, beliau menjelaskan maksud dari hadits diatas maksudnya adalah bukan berarti satu ayat dari ayat2 Al qur'an, tapi satu kalimat dari tuntunan Rasul SAW, karena semua yang disampaikan oleh Rasul SAW itu adalah perintah Allah, Jadi makna hadits ini adalah sampaikan tuntunan sang Nabi walaupun satu kalimat, itu merupakan satu tugas besar, mandat yang diberikan kepada kita dari sayyidina Muhammad agar kita menjadi wakil beliau SAW. Seluruh ummat Nabi Muhammad adalah wakil Rasulullah SAW. Misalnya seseorang berkata kepadamu "sampaikan kepada si fulan salam dariku", berarti kau telah menjadi perantara atau wakil untuk menyampaikan salam atau "sampaikan hadiah ini kepada Abdullah ", berarti engkau menjadi perantara untuk menyampaikan hadiah itu.
Maka Rasul shallallahu 'alaihi wasallam juga bersabda :
"Sampaikan (sesuatu/ tuntunan ) dariku walaupun satu ayat "
Siapakah yang mau atau maukah kita bersambung dengan rantai perantara Sayyidina Muhammad SAW???.
Meluruskan Anggapan bahwa Orang Tua Rasul adalah Musyrik dan Masuk Neraka
Ada sebagian dari saudara kita berpendapat bahwa Orang Tua Rasulullah itu Musyrik dan masuk neraka.
Tentunya pendapat ini sangat keliru dan tergesa-gesa.
Sebagian ulama berpendapat bahwa Orang Tua Rasulullah bebas dari kemusyrikan dan neraka, karena wafat sebelum kebangkitan Risalah dari Rasulullah, dan tak ada pula nash yg menjelaskan mereka menyembah berhala.
diantara Ulama yg berpendapat bahwa Orang Tua Rasulullah bukanlah Musyrik adalah :
- Hujjatul Islam Al Imam Syafii dan sebagian besar ulama syafii,
- Al Hafidh Al Muhaddits Al Imam Qurtubi,
- Hujjatul Islam wa barakatul anam Al Imam Bukhari,
- Al Hafidh Al Imam Assakhawiy,
- Al hafidh Al Muhaddits Al Imam Jalaluddin Abdurrahman Assuyuthi
yg mengarang sebuah buku khusus tentang keselamatan
Orang Tua rasulullah
- Al hafidh Al Imam Ibn Syaahin,
- Al Hafidh Al Imam Abubakar Al baghdadiy
- Al hafidh Al Imam Attabari
- Al hafidh Al Imam Addaruquthniy, dan masih banyak lagi yg lainnya,
Dalam hal ini, ada baiknya kita berpegang pada pendapat ulama2 terdahulu, dimana keilmuan mereka sangat luas.
Tentunya pendapat ini sangat keliru dan tergesa-gesa.
Sebagian ulama berpendapat bahwa Orang Tua Rasulullah bebas dari kemusyrikan dan neraka, karena wafat sebelum kebangkitan Risalah dari Rasulullah, dan tak ada pula nash yg menjelaskan mereka menyembah berhala.
diantara Ulama yg berpendapat bahwa Orang Tua Rasulullah bukanlah Musyrik adalah :
- Hujjatul Islam Al Imam Syafii dan sebagian besar ulama syafii,
- Al Hafidh Al Muhaddits Al Imam Qurtubi,
- Hujjatul Islam wa barakatul anam Al Imam Bukhari,
- Al Hafidh Al Imam Assakhawiy,
- Al hafidh Al Muhaddits Al Imam Jalaluddin Abdurrahman Assuyuthi
yg mengarang sebuah buku khusus tentang keselamatan
Orang Tua rasulullah
- Al hafidh Al Imam Ibn Syaahin,
- Al Hafidh Al Imam Abubakar Al baghdadiy
- Al hafidh Al Imam Attabari
- Al hafidh Al Imam Addaruquthniy, dan masih banyak lagi yg lainnya,
Dalam hal ini, ada baiknya kita berpegang pada pendapat ulama2 terdahulu, dimana keilmuan mereka sangat luas.
Said bin Amir Pemimpin Yang Baik
Pada masa khalifah Umar bin Khattab, ada seorang gubernur yang ditugaskan di Syiria. Dia bernama Said bin Amir, ia adalah seorang pemimpin yang baik, jujur dan sangat dicintai rakyatnya.
Tapi dia hidup dalam keprihatinan. Dia bukan orang kaya, rumahnya tidak mewah, tidak memiliki 'fasilitas dinas' dan tidak mau menggunakan fasilitas negara.
Suatu hari, ada serombongan rakyat Syiria yang datang menghadap Khalifah Umar bin Khattab, lalu khalifah berkata kepada mereka: coba kalian tuliskan nama-nama orang miskin yang ada di Syiria, saya akan membagikan bantuan kepada mereka dari baitul mal.
Mereka pun menulis nama-nama penduduk Syiria. Yang ironis didalam daftar tersebut juga tertulis nama Said bin Amir, sang gubernur. Ketika melihat daftar nama-nama tersebut, khalifah Umar bin Khattab menjadi terkejut ketika melihat terdapatnya salah satu nama yang sepertinya di kenalinya. Kemudian Sayyidina Umar bin Khattab bertanya, “Said bin Amir ini Said bin Amir yang mana ?
Mereka menjawab: Dia adalah gubernur kami, wahai khalifah.''
“Gubernur kalian miskin ?“ tanya Khalifah Umar bin Khattab dengan mata berkaca2.
“Benar, wahai khalifah,“ jawab mereka serempak “Bahkan sudah beberapa hari ini kami lihat istrinya tidak memasak apapun.”
Lalu Khalifah Umar bin Khattab menangis tersedu-sedu sambil memasukkan uang seribu dinar ke dalam kantong, lalu ia berkata : “Bawa ini ke gubernur kalian, dan serahkan ini untuk biaya hidupnya”.
Rombongan itu kembali ke Syiria dan menyerahkan amanat dari khalifah kepada gubernur, saat membuka isi kantong, Said bin Amir berucap dengan kencangnya ; Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un, telah datang kepada ku dunia yang akan merusak akhiratku.'' Istrinya lalu berkata : “ Lenyapkan saja dunia itu wahai suamiku.”
Atas persetujuan istrinya, Said bin Amir membagi-bagikan uang seribu dinar tersebut kepada rakyatnya.
Langganan:
Postingan (Atom)